Kamis, 06 Oktober 2016

SHORT STORY( LITERATURE)

Posted by Unknown on 09.04 with No comments


DRESSING OF THE WHITE


Hai Mentari,pagi ini kau kembali menyapa hari-hari yang masih terlihat sama. Terlihat sama kau tertawa karna kasih tak lagi menoleh seperti sebelumnya. Sang Putih menangis dan kau semakin mendongak ke ufuk barat. Meneteskan butir demi butir mutiara suci yang tak mampu lagi kita hentikan. Tahukah kau mentari,sang putih kini merindukan pujangga yang pernah ia singgahi,pujangga yang begitu nyaman saat didekati. Pujangga yang masih menjelajah logika dan relung hati.
Mentari,ingatkah sang putih tertatih meraba kasatnya pujangga itu? Saat dimana ia tak lagi tahu hangatnya balutan bisu. Yang mendekap erat sang putih dalam heningnya malam. Rindu? Jangan kau tanya! Belum mampu ia temukan pujangga yang membalutnya sehangat dulu. Kini rindu merengek, ia hendak bertamu pada balutan yang begitu tabu.
Balutan yang sudah tak lagi acuh pada masa lalu. Berusaha meninggalkan namun tak begitu yakin pada hadapan. Andai ia tahu begitu besar sebuah rindu pada satu pertemuan. Hanya kita yang tak pernah tahu takdir yang digariskan. Takdir yang bergerak tanpa mengerti perasaan. Takdir yang pahitnya melebihi rasa penantian. Andai balutan tahu kemana arah pulang.
Kisah akan semakin panjang mentari, Terlebih lagi saat kau dengan sombong berdiri tegak diatas awan biru. Menyinari dengan terikmu, terik yang perlahan menusuk dahaga ini. Apakah mampu disembukan oleh satu botol air mineral? Apakah kau yakin wahai mentari? Tidak,gumamku.
Bagaimana satu botol air mineral mampu menyembuhkan sang rindu. Rindu sang putih pada balutan lamanya. Kau tak mengerti mentari. Tak satupun yang kau pahami. Dahagaku tercekik saat menatap tajamnya sengatanmu. Bahkan satu botol air mineral tak sanggup menenangkanku,masih,sang putih inginkan balutannya kembali.
Dari sudut ini terlihat olehku jejeran botol termangu seraya memanggil”dahaga,basahi aku” kakiku melangkah kearah mereka. Masih melihat,apakah sama dengan yang aku inginkan. Tak begitu pasti. Samar,penilaian pandangan . mungkin begitu tinggi dampak sengatan kau mentari. Dan aku tetap menatapnya.
Sedikit perdebatan terjadi, antara otak dan hati. Semakin lama pandangan pun tak mampu lagi mempertahankan kesetiannya. Aku harus bergegas,pandangan ini pun jatuh pada sang putih. Sang putih tersenyum, ia tahu aku membutuhkannya. Lantas,ku teguk dengan pasti air mineral yang kunamai sang putih. “sejuk” gumamku.
Ternyata memang benar. Dahaga yang seolah tak berdaya kini sudah kembali pulih. Sebab kau sang putih. Sebab kau yang telah meyakinkan ku. Sebab pandangan yang entah mengapa menjatuhkan pilihan padamu. Bukan hanya aku,dan kau tahu pasti. Barangkali mereka merasakan hal yang sama serta ucapan terimakasih kan kau dengar berkali-kali.
Ucapan terimakasih bukanlah hanya sekedar sandiwara belaka. Banyak makna tersirat dibalik kata sederhana itu. “aku benci mengatakannya” kataku. Namun, tak salah jika  beberapa orang tak memahami maknanya. Kan ku ucapkan, tenang saja. Mungkin ada hati yang sedikit riang akan kata menyegankan itu. Sesegan mengucapkan rindu atas hilangnya balutan sang putih.
Rindu yang masih merajalela diatas segalanya. Rindu yang masih ditimang entah sampai kapan. Pahamilah, beratnya memikul rindu sendirian. Rindu sang putih pada balutannya. Balutan yang akhirnya kembali, ia kembali menoleh sebab ada bilik kosong jika ia merangkak jauh. Aku yakin itu, balutan sadar kepergian akan meninggalkan luka. Rindu mengerti artinya kepulangan dan kini sang putih terbalut dengan nyamannya.

0 komentar:

Posting Komentar