DRESSING OF THE WHITE
Hai Mentari,pagi ini kau kembali
menyapa hari-hari yang masih terlihat sama. Terlihat sama kau tertawa karna
kasih tak lagi menoleh seperti sebelumnya. Sang Putih menangis dan kau semakin
mendongak ke ufuk barat. Meneteskan butir demi butir mutiara suci yang tak
mampu lagi kita hentikan. Tahukah kau mentari,sang putih kini merindukan
pujangga yang pernah ia singgahi,pujangga yang begitu nyaman saat didekati. Pujangga
yang masih menjelajah logika dan relung hati.
Mentari,ingatkah sang putih tertatih
meraba kasatnya pujangga itu? Saat dimana ia tak lagi tahu hangatnya balutan
bisu. Yang mendekap erat sang putih dalam heningnya malam. Rindu? Jangan kau
tanya! Belum mampu ia temukan pujangga yang membalutnya sehangat dulu. Kini rindu
merengek, ia hendak bertamu pada balutan yang begitu tabu.
Balutan yang sudah tak lagi acuh
pada masa lalu. Berusaha meninggalkan namun tak begitu yakin pada hadapan. Andai
ia tahu begitu besar sebuah rindu pada satu pertemuan. Hanya kita yang tak
pernah tahu takdir yang digariskan. Takdir yang bergerak tanpa mengerti
perasaan. Takdir yang pahitnya melebihi rasa penantian. Andai balutan tahu
kemana arah pulang.
Kisah akan semakin panjang
mentari, Terlebih lagi saat kau dengan sombong berdiri tegak diatas awan biru. Menyinari
dengan terikmu, terik yang perlahan menusuk dahaga ini. Apakah mampu disembukan
oleh satu botol air mineral? Apakah kau yakin wahai mentari? Tidak,gumamku.
Bagaimana satu botol air mineral
mampu menyembuhkan sang rindu. Rindu sang putih pada balutan lamanya. Kau tak
mengerti mentari. Tak satupun yang kau pahami. Dahagaku tercekik saat menatap
tajamnya sengatanmu. Bahkan satu botol air mineral tak sanggup
menenangkanku,masih,sang putih inginkan balutannya kembali.
Dari sudut ini terlihat olehku
jejeran botol termangu seraya memanggil”dahaga,basahi aku” kakiku melangkah
kearah mereka. Masih melihat,apakah sama dengan yang aku inginkan. Tak begitu
pasti. Samar,penilaian pandangan . mungkin begitu tinggi dampak sengatan kau
mentari. Dan aku tetap menatapnya.
Sedikit perdebatan terjadi,
antara otak dan hati. Semakin lama pandangan pun tak mampu lagi mempertahankan
kesetiannya. Aku harus bergegas,pandangan ini pun jatuh pada sang putih. Sang putih
tersenyum, ia tahu aku membutuhkannya. Lantas,ku teguk dengan pasti air mineral
yang kunamai sang putih. “sejuk” gumamku.
Ternyata memang benar. Dahaga yang
seolah tak berdaya kini sudah kembali pulih. Sebab kau sang putih. Sebab kau
yang telah meyakinkan ku. Sebab pandangan yang entah mengapa menjatuhkan
pilihan padamu. Bukan hanya aku,dan kau tahu pasti. Barangkali mereka merasakan
hal yang sama serta ucapan terimakasih kan kau dengar berkali-kali.
Ucapan terimakasih bukanlah hanya
sekedar sandiwara belaka. Banyak makna tersirat dibalik kata sederhana itu. “aku
benci mengatakannya” kataku. Namun, tak salah jika beberapa orang tak memahami maknanya. Kan ku
ucapkan, tenang saja. Mungkin ada hati yang sedikit riang akan kata menyegankan
itu. Sesegan mengucapkan rindu atas hilangnya balutan sang putih.
Rindu yang masih merajalela
diatas segalanya. Rindu yang masih ditimang entah sampai kapan. Pahamilah,
beratnya memikul rindu sendirian. Rindu sang putih pada balutannya. Balutan yang
akhirnya kembali, ia kembali menoleh sebab ada bilik kosong jika ia merangkak
jauh. Aku yakin itu, balutan sadar kepergian akan meninggalkan luka. Rindu mengerti
artinya kepulangan dan kini sang putih terbalut dengan nyamannya.
0 komentar:
Posting Komentar